Dunia Hewan

Gara-gara Membunuh Anak Harimau, Satu Kampung Diserang Harimau

WOWUNIK.INFO – Cerita orang tua zaman dulu mengatakan, jika manusia membunuh harimau Sumatera, maka akan dibalas dengan dibunuh. Demikian juga jika harimau membunuh manusia maka itu telah melanggar hukum alam dan harimau itu pun harus di bunuh.

Hukum ini masih dipegang sampai sekarang dan dipercaya oleh masyarakat Bengkulu. Sehingga jika ada harimau membunuh manusia, hal itu telah melanggar hukum alam.

Catatan kasus manusia dibunuh harimau di wilayah Kabupaten Seluma, Kepahiang dan Bengkulu Tengah akibat manusia membunuh anak harimau telah tersebar dan dipercaya karena melanggar ketentuan yang telah ditetapkan alam.

Kisah Harimau Menyerang Desa Karena Manusia Membunuh Anak Harimau

harimau sumatra
harimau sumatra/via: lampungpro.co

Terkait kepercayaan membunuh harimau akan dibalas dengan dibunuh, seorang warga bernama Suyanti pernah mendengar informasi tersebut. Bahkan dia mempunyai catatan sejumkah kasus manusia tewas oleh harimau di wilayah Kabupaten Seluma, Kepahiang, dan Bengkulu Tengah yang diakibatkan manusia membunuh anak harimau.

“Kepercayaan itu sepertinya mengandung kebenaran. Ada orang yang membunuh anak harimau lalu dibunuh oleh harimau, dan ada juga anak orang yang membunuh anak harimau yang dibunuh oleh harimau,” ujar Suyanti seperti dilansir dari liputan6.com.

Bahkan, dia pernah mendengar cerita, saat masa penjajahan Belanda dulu, suatu kampung diserang oleh sejumlah harimau karena membunuh anak harimau.

Di Desa Karang Tinggi, Bengkulu Tengah juga dia mendapat cerita ada anak harimau yang sakit masuk kampung lalu dibunuh. Kulitnya digunakan untuk membuat bedug dan tulangnya digunakan sebagai pemukul bedug dan kentongan. Tak lama kemudian, datang banyak harimau ke kampung dan menyerang warga, sehingga kampung itu terpaksa ditinggalkan.

harimau Sumatra/via: grid.id
harimau Sumatra/via: grid.id

Berbekal kepercayaan tentang harimau leluhur, ditambah kesadaran tentang pelestarian hutan dan Harimau Sumatera, warga dan pemerintahan desa bersepakat menetapkan kawasan hutan Bukit Sarang Macan menjadi hutan larangan atau hutan lindung desa. Kesepakatan menjadikan ‘rumah’ harimau menjadi hutan lindung itu terjadi sekitar 14 tahun silam.

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Sumatera Selatan – Bengkulu Balai Besar TNKS Ismanto tak menampik kearifan warga tersebut. Kata dia, sudah beberapa kali pembinaan dalam bentuk penyuluhan dilakukan di sana.

Ke depan pihaknya akan melakukan program untuk menjadikan Desa Ladang Palembang sebagai desa mitra. “Bila ada desa lain yang letaknya bersebelahan dengan kawasan TNKS dan juga mempunyai kearifan, akan kita dorong untuk mengadopsi atau mengadaptasi upaya warga dan pemerintah Desa Ladang Palembang tersebut,” ucap Ismanto.

Perwakilan Forum Harimau Kita untuk Wilayah Provinsi Bengkulu Erni Suyanti juga mengapresiasi kearifan warga terkait pelestarian Harimau Sumatera di Desa Ladang Palembang tersebut. Terutama di kawasan hutan Bukit Sarang Macan.

Luas kawasan hutan Bukit Sarang Macan, memang tidak cukup untuk disebut sebagai habitat khusus pelestarian Harimau Sumatera. Namun, area itu bisa dianggap sebagai bagian dari wilayah harimau.

Sebab, lokasi hutan Bukit Sarang Macan atau Desa Ladang Palembang itu bersebelahan dengan TNKS. Jadi sangat mungkin bila kawasan hutan Bukit Sarang Macan itu juga menjadi bagian wilayah jelajah harimau mencari mangsa.

Warga Sepakat Untuk Menjaga Hutan

Kondisi hutan Bukit Sarang Macan sampai saat ini dinyatakan belum terjamah. Untuk pemanfaatan, warga hanya boleh mengambil buah hutan, tanaman obat dan madu dengan tidak merusak pohon. Bila dilanggar, pelaku dikenakan denda adat berupa serawo punjung kambing, beras 2 kaleng, dan denda uang senilai harga kayu yang ditebang atau dirusak.

harimau Sumatra
harimau Sumatra/via: kompas.com

Pemilik kebun yang berbatasan langsung juga dilarang melakukan pembakaran sebelum menyiapkan pembatas atau parit. Bila dilanggar, pelaku dikenakan denda adat berupa serawo punjung ayam, beras 2 kaleng, dan denda uang senilai harga kayu yang terbakar.

Pemilik kebun yang berbatasan langsung pun dilarang memperluas kebun hingga masuk ke kawasan hutan Bukit Sarang Macan. Bila melanggar, pemilik kebun dikenakan denda adat berupa serawo punjung kambing, beras 2 kaleng, denda uang senilai harga kayu yang ditebang atau dirusak serta kembali ke lahan semula.

Pemilik kebun juga diminta menanam tanaman tua atau kayu-kayuan dan menjaga kelestariannya. Bila melanggar, pemilik kebun dikenakan denda adat berupa serawo punjung kambing dan beras 2 kaleng.

hutan taman Nasional gunung Kerinci Seblat
hutan taman Nasional gunung Kerinci Seblat/via: rimbakita.com

Hutan Bukit Sarang Macan ini memiliki luas sekitar 20 hektar dan berbatas di sebelah Selatan dan Timur dengan perkebunan masyarakat dan sebelah Barat membujur ke Utara dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

“Hutan Bukit Sarang Macan juga berfungsi sebagai penyangga TNKS,” kata Mardiono, Koordinator Seksi Pembibitan Desa.

Kini, konflik antara manusia dan Harimau Sumatra sudah semakin jarang terjadi di wilayah Kabupaten Seluma. Masyarakat mempercayai, jika hukum keseimbangan alam tetap dijaga, harimau tidak akan mengganggu manusia.

Harimau tidak pernah berminat memangsa manusia selama hutan masih terjaga dan tersediannya hewan liar untuk menjadi makanannya.

Bagikan ke: